psikologi bunyi atau sound branding

rahasia di balik nada pembuka netflix yang ikonik

psikologi bunyi atau sound branding
I

Coba pejamkan mata sejenak dan bayangkan suasana ini. Kita baru saja merebahkan diri di sofa yang empuk setelah seharian bekerja keras. Lampu ruangan sudah diredupkan. Jari kita perlahan menekan tombol OK di remote TV. Lalu, dari speaker ruangan muncul sebuah bunyi singkat namun menggema: "Ta-dum!"

Sekejap saja, tanpa perlu melihat layar, otak kita sudah tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Tubuh kita rileks, dan kita bersiap untuk maraton serial favorit. Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, mengapa hanya dari bunyi berdurasi kurang dari tiga detik itu, mood kita bisa langsung berubah drastis dari stres menjadi antusias? Mari kita bedah fenomena psikologis ini bersama-sama.

II

Apa yang barusan kita bayangkan sebenarnya adalah bentuk sihir modern yang oleh para ilmuwan dan pemasar disebut sebagai sound branding atau audio branding. Sejarahnya punya akar yang sangat dalam pada psikologi dasar manusia. Mungkin teman-teman ingat dengan eksperimen klasik Ivan Pavlov dari buku biologi sekolah dulu. Pavlov membunyikan lonceng setiap kali ia memberi makan anjingnya. Lama-kelamaan, hanya dengan mendengar bunyi lonceng saja, anjing itu sudah berliur, meski sama sekali tidak ada makanan di depannya.

Nah, mari kita aplikasikan konsep classical conditioning ini ke diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita adalah subjek eksperimen Pavlov di era digital. Perusahaan teknologi raksasa sengaja merancang bunyi-bunyi spesifik untuk mengkondisikan otak kita. Mereka menanamkan sebuah ekspektasi. Saat kita mendengar nada booting komputer, denting notifikasi ponsel, atau tentu saja, "Ta-dum" ala Netflix, otak kita secara otomatis mempersiapkan respons emosional tertentu. Tapi, dari sekian juta kombinasi frekuensi bunyi di dunia, kenapa harus nada spesifik itu yang dipilih dan bisa sangat efektif?

III

Mari kita melangkah lebih dalam ke dapur rekaman Netflix di masa lalu. Saat perusahaan ini mulai beralih memproduksi konten original mereka sendiri seperti House of Cards, para petinggi sadar mereka butuh identitas suara yang sekuat logo visual. Mereka menyewa seorang desainer suara pemenang Oscar bernama Lon Bender. Prosesnya ternyata sama sekali tidak sesederhana menekan keyboard synthesizer.

Fakta lucunya, tahukah teman-teman apa salah satu kandidat kuat bunyi pembuka Netflix sebelum "Ta-dum" terpilih? Suara embikan kambing. Ya, seekor kambing. Alasannya karena suara itu dinilai sangat unik, tidak terduga, dan pasti menempel di kepala. Untungnya, mereka sadar bahwa menonton kambing mengembik sebelum adegan drama kriminal yang gelap dan serius mungkin akan merusak suasana. Mereka akhirnya mencari suara yang bisa langsung memicu respons dari amygdala, bagian otak kita yang bertugas memproses emosi dan memori. Mereka butuh suara yang mengkomunikasikan kata "bioskop", "megah", dan "mulai" secara instan. Di sinilah sains tentang psychoacoustics—ilmu yang mempelajari bagaimana persepsi manusia terhadap suara—mulai bermain. Tapi, bagaimana persisnya suara singkat itu dirakit hingga bisa menghipnotis kita?

IV

Bersiaplah, karena rahasia di balik resep suara ini sangat memukau dan berbasis pada kejeniusan fisika suara. Suara "Ta-dum" itu ternyata bukanlah sekadar instrumen digital murahan, melainkan gabungan dari elemen-elemen fisik yang sangat spesifik untuk memanipulasi psikologi pendengaran kita.

Bunyi ketukan pertama yang keras ("Ta") sebenarnya adalah suara cincin kawin Lon Bender yang diketukkan ke sisi lemari kayu di kamar tidurnya. Ketukan kayu ini memberikan sensasi organik, sesuatu yang membumi, familiar, dan mengundang perhatian. Lalu masuklah elemen kedua ("dum"), yang diperkaya dengan suara dentuman tebal dan—ini bagian paling jeniusnya—suara melodi gitar listrik yang dimainkan secara terbalik (reversed).

Secara neurologis, gelombang suara yang di-reverse menciptakan ilusi ruang pendengaran yang melebar. Otak kita memprosesnya sebagai sesuatu yang meluas atau "membesar", seolah-olah tirai bioskop sedang dibuka lebar-lebar khusus untuk kita. Keseluruhan bunyi ini ditutup dengan chord mayor yang harmonis dan tertahan (sustained). Dalam teori musik dan psikologi, chord mayor memberikan perasaan penyelesaian atau resolve. Jadi, dalam hitungan dua detik, otak kita diajak merasakan ketegangan kecil, lalu diberikan kelegaan instan. Proses transisi emosi dari tegang ke lega inilah yang memicu otak kita melepaskan dopamin, si hormon kebahagiaan. Kita merasa puas bahkan sebelum adegan pertama filmnya benar-benar dimulai.

V

Mengetahui semua sains dan sejarah di balik proses ini rasanya seperti membuka tirai panggung trik sulap, bukan? Namun bagi saya, hal ini tidak merusak keajaibannya, justru membuat pengalaman menonton kita jadi jauh lebih kaya. Menyadari bagaimana ketukan cincin kawin ke lemari kayu bisa berevolusi menjadi pemicu dopamin massal secara global adalah bukti betapa hebatnya persilangan antara seni bercerita, psikologi, dan sains.

Mulai sekarang, ketika kita mendengar suara-suara di sekitar kita—baik itu bunyi intro aplikasi, suara mesin kasir, atau nada dering—mari kita coba berpikir kritis sejenak. Sadarilah bahwa di balik setiap bunyi yang familiar, kemungkinan besar ada tim ilmuwan dan seniman yang sedang berusaha berbicara langsung ke alam bawah sadar kita. Kita memang dikondisikan layaknya subjek sains, tapi dengan memahaminya, kita tidak lagi sekadar menjadi pendengar pasif. Kita menjadi pengamat yang cerdas. Nah, sambil membayangkan suara "Ta-dum" di kepala kita, tontonan apa yang akan teman-teman nikmati malam ini?